Kamis, 27 April 2017

Kisah Patah Hati

Masa remaja adalah masa dimana semua orang ingin membuat kenangan indah, memori yang akan disimpan dan dibuka kelak pada masanya, dimasa depan. Namun gue? Dimasa ini gue hanya membuat sebuah kenangan. Kenangan akan patah hati. Dan inilah kisah masa remaja gue.

Untuk seumuran gue, sebuah patah hati bukanlah sebuah masalah. Karena bakalan berguna buat mendewasakan diri. Namun patah hati yang terjadi berulang kali? Jelas itu bakalan menjadi sebuah masalah buat gue.

Namun apalah yang terpikirkan oleh gue. Sebuah cinta, dan harapan untuk bahagia bersama dia. Seorang perempuan, yang bikin gue merasa patah hati selama berkali-kali. Seorang perempuan, yang bikin gue berharap akan balasan cinta. Bukan hanya sebuah kata sayang. Namun sebuah rasa yang mampu menenangkan diri.

Kenapa gue berharap akan itu? Padahal yang ia lakukan hanyalah sebuah momen-momen kecil. Namun sulit untuk dilupakan oleh gue. Dari awal, gue merasa ada yang janggal. Gue merasa ujungnya bakalan jadi seperti yang lalu. Runtutan peristiwa yang berulang kali terjadi. Runtutan peristiwa yang membuat gue semakin dewasa, dan semakin menjauh dari yang namanya cinta. Dewasa pun runtuh karena sebuah momen yang ga bakalan pernah gue lupain. Kenangan masa remaja yang bakal terngiang-ngiang dalam akal dan pikiran gue.

Ini bukan sebuah curhatan, namun sebuah kisah patah hati yang terjadi dalam hidup gue. Sebuah patah hati yang bakalan sulit untuk dilupain. Yang hanya disebabkan oleh dia. Seorang perempuan yang berada didekat gue selama perjalanan pulang menuju rumah. Rumah bagi kami semua.

Perasaan nyaman yang hanya akan gue dapatkan dari satu perempuan. Yang menurut gue patut dan harus untuk dikenang.

Sepanjang perjalanan, dalam keadaan yang telah gelap hanya ada remang-remang sepanjang jalan. Gue berpikir dan bertanya. Apakah benar dia? Perempuan yang harus gue perjuangkan sendiri dengan usaha gue. Karena gue tau dan benar-benar sadar. Kalau ini bukan perasaan sesaat, yang akan hilang begitu saja tanpa ada maknanya. Gue sadar kalau kali ini gue jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta.

Selama hampir dua tahun gue baru sadar. Gue sadar apa alasan gue dari awal selalu berusaha memalingkan muka dan melihat di sudut kiri dimana dia berada. Dan tersenyum hanya karena menganggap semua yang dilakukannya lucu menurut gue.
Senyumnya, tingkahnya, tawanya, semua tentang dia mampu untuk menghilangkan perasaan sedih yang gue punya.

Satu kata dari dia secara langsung dapat membuat gue berubah pikiran. Namun perasaan tetaplah perasaan, tidak akan berubah sekejap mata.

Sekali lagi gue sadar. Hanya gue yang punya perasaan ini. Perasaan ini, bukan perasaan yang bakalan dimiliki berdua. Hanya satu dan itu gue. Selamanya akan begitu. Tidak ada yang namanya keajaiban. Walaupun ada kalimat yang banyak orang percaya yaitu "tidak ada yang tak mungkin". Balasan perasaan gue masuk dalam satu-satunya pengecualian dalam kalimat tersebut.

Dan inilah sebuah kisah patah hati dari gue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar